prediksipaktuntung
Kode Alam

Sejarah Latar Belakang Pak Tuntung

pak tuntung

Sejarah Latar Belakang Pak Tuntung – Pak Tuntung pertama kali muncul di Analisa pada tahun 1973. Sebelumnya hidung Pak Tuntung panjang melengkung ke atas seperti pergabungan hidung pinokio dan Petruk tokoh kartun lainnya. Setelah terjadinya revolusi perubahan secara bertahap, Barulah Pak Tuntung sampai pada wujudnya yang sekarang ini. Komik Pak Tuntung sangat banyak disenangi oleh seluruh kalangan, walaupun tanpa adanya narasi namun kartun ini dapat menggambarkan situasi masyarakat yang riil dan sesuai dengan kenyataan. Dan tema dari setiap kartun pak tuntung selalu aktual dan hangat. Misalnya disaat Tahun Baru Natal, Pak Tuntung juga ikut dalam merayakan natal dengan bercostum santa claus dan membagikan hadiah. Saat ada tren-tren terbaru dari masyarakat, hampir seluruh akan dijadikan tema.

Seiring dengan perjalanan waktu membentuk kartun Pak Tuntung semakin berkembang. Sekarang kartun ini lebih hidup dengan teknik yang membantu kartunis untuk memunculkan konteks sosial kartunnya. Ini yang membedakan Pak Tuntung dengan kebanyakan kartun Indonesia yang dibuat tanpa konteks sosial. Seperti jika tema yang sedang diceritakan tentang kota jakarta, maka didalam komik pak tuntung akan akan Monas yang mencerminkan ibukota jakarta. Dengan begitu masyarakat akan semakin menyukai kartun ini karena selalu mengajarkan apa yang terdapat pada suatu kota yang termasuk pengetahuan yang terdapat di indonesia. Pak Tuntung adalah buah karya dari Basuki seorang kartunis yang berdomisili di kota Medan. Basuki harus masuk kantor Analisa, karena Basuki juga bekerja di bagian periklanan. Basuki sesekali membuat kartun lain dan mengirimnya ke surat kabar lain. Salah satunya ke harian Lianhe Saobao, surat kabar berbahasa Mandarin terbesar di Singapura.

Tokoh Pak Tuntung digambarkan sebagai seorang pria dengan berpakaian kemeja putih yang dilipat lengan dan bercelana blaster coklat hitam serta menggunakan sepatu pansus. Pak Tuntung berpasangan dengan wanita gendut berambut keriting yang tak lain istrinya dan mereka dikarunia sepasang anak yang tak lain adalah seorang anak laki-laki dan perempuan. Tetapi tidak ada nama dari istri dan anak-anak pak tuntung, biasanya mereka disebut sebagai bu tuntung dan anak-anak pak tuntung. aktor lainnya seperti pak tua dan sebagainya. Walaupun sederhana tetapi kartun Pak Tuntung mampu mengajak pembaca masuk ke alam ilusi sambil tersenyum-senyum.

Nama Pak Tuntung diambil dari Tuntungan, daerah di pinggiran kota Medan. Tuntungan dirasa cukup berarti untuk nama kartun koran itu. Akhiran -an dibuang, kemudian ditambah kata “Pak” jadilah Pak Tuntung. Dalam bahasa Tionghoa, “Tung-tung” artinya anak-anak. Pak Tuntung memang dekat dengan masyarakat Tionghoa di Medan karena surat kabar Analisa, meski secara sosial bukan pembagian yang tepat, dianggap sebagai surat kabar masyarakat keturunan Tionghoa di Medan.

Tetapi sekarang ini kartun pak tuntung sudah tidak ditulis lagi oleh basuki. setelah 33 tahun berkarya bersama harian Analisa, dia pindah ke Harian Global pada tahun 2006. Hingga saat ini pengerjaan Pak Tuntung sudah diserahkan seluruhnya kepada kartunis lainnya.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *